ULASAN,

Ulasan Us (2019): Refleksi dan Makna Ganda Lainnya

8
Shares

Karya kedua Jordan Peele berjudul Us (2019) menceritakan liburan keluarga yang menjadi kacau-balau. Setelah seorang ibu bernama Adelaide (Lupita Nyong’o) bersama suami dan kedua anaknya mengawali liburan dengan menikmati musim panas, semua berubah saat malam akhirnya datang.

Teror mencekam muncul di halaman rumah saat sekelompok orang dengan baju merah, sarung tangan di kanan, dan gunting berdiri terdiam sambil berpegangan tangan.

PLOT TWIST

Ternyata sekelompok orang itu adalah doppelganger atau mahluk yang menyerupai mereka. Dalam sepanjang film  penonton akan menyaksikan perjalanan Adelaide dan keluarga untuk tetap bertahan hidup dengan berbagai cara, dari melarikan diri hingga melawan mahluk kembarannya.

Us mengawali cerita dari Adelaide yang tersesat di taman hiburan saat masih kecil. Ia akhirnya masuk ke wahana seperti rumah hantu yang dipenuhi oleh kaca. Selain melihat refleksi dirinya yang terpantul di berbagai sisi, Adelaide menemukan kembarannya.

Setelah Get Out (2017), Jordan Peele sekali lagi mencoba mengeksplorasi isu nyata melalui film horror—mengobral simbol dan menyelimuti makna sesungguhnya. Penonton dapat sekadar menonton filmnya sampai habis sebagai cheap thrill, membahas plot, terngiang dalam kengerian, atau mencari makna di dalamnya. 

Tidak perlu overthinking, nikmati saja horrornya. Tapi apabila sebuah makna atau metafora terlintas di kepala maka film ini berhasil merangsang dan membuat Anda terhubung dengan isu nyata di dunia.

The Shining (1980) jadi mahakarya horror buatan Stanley Kubrick karena berbagai alasan. Contoh terbaik adalah efek penasaran yang tersisa setelah menonton filmnya dan makna ganda yang tertangkap di kepala penonton. Us, baik sengaja atau tidak sengaja mencoba untuk memanfaatkan formula ini.

Us bisa dilihat dari beberapa sudut pandang. Salah satunya adalah kisah tentang kaum yang terlupakan dari bawah tanah, bagaikan masyarakat kelas dua—pilih saja minoritas yang sekiranya tertindas. Digambarkan tak bisa berbicara dan buas, mereka semua sebenarnya replika dari setiap manusia. Ya, kadang KiTa AdAlAh MuSuH TErBeSar KItA SeNdIrI.

Selain itu sudut pandang personal Adelaide di film ini memposisikannya untuk menghadapi diri sendiri (secara harfiah). Masa lalu ikut menghantuinya, refleksi diri atas hal yang ia jauhi seumur hidup datang kembali sehingga harus ia konfrontasi (secara harfiah). Satu jiwa dua badan, Ia HArUs MeLAWaN DiRiNyA SenDiRI UnTuK SElaMatKAn DiRI.

Mungkin sisi terbaik dari film ini adalah bagaimana perspektif penonton seakan dipermainkan. Spoiler alert.

Saat akhirnya Adelaide berhasil mengalahkan kloningannya, penonton diberitahu melalui kilas balik bahwa sebenarnya Adelaide yang asli tertukar saat kecil dengan kloningannya. Jadi satu film ini kita memperdulikan keselamatan seorang kloningan Adelaide dari kemurkaan Adelaide yang asli. Entah mengapa film horror Alone (2007) yang menceritakan kembar tertukar terlintas di kepala.

Bagaimana persepsi penonton atas siapa yang baik dan jahat pun buyar, kepedulian kita seakan dimainkan oleh twist di akhir cerita. Apakah kita salah apabila membela kloningan Adelaide? Apakah sudah sepantasnya kita membenci kloningan Adelaide padahal kita baru saja mengikuti satu cerita dan menginginkan dirinya selamat? Moral dipertanyakan, berpendapat atas mana yang salah dan mana yang benar pun sulit untuk ditentukan.

Jordan Peele pun mulai disamakan dengan raksasa horror. Sebut saja Chicago Suntimes yang mengatakan Jordan Peele memiliki nuansa Hitchcock, Spielberg, dan bahkan bapak zombie George A. Romero. Selain itu Peele dianggap memiliki “suara” sendiri sebagai seorang pembuat film.

Omong kosong anjeeeng. Iya filmnya keren, tapi ulasannya berlebihan. Menyamakan dengan tiga sosok sinema tersebut padahal baru dua film itu gila. Ia mencomot sana-sini dan selain unsur komedi, “suara” sendiri Jordan Peele belum terlihat atau terdengar. Bahkan Chicago Suntimes tidak memberikan contoh konkret atas pernyataannya.

Pada akhirnya Us memberikan horror yang cemerlang, mengambil inspirasi dari para pencipta film terbaik (seperti zombie vibe Romero) dan mencampurkannya untuk mendefinisikan ciri khas film Jordan Peele yang terlihat mencoba ingin berbeda.
Detail dan presisi juga jadi daya tarik yang membuat filmnya terkemas dengan baik.

Kami tidak sabar film-film Jordan Peele berikutnya. Saat akhirnya ia bisa memberikan karya-karya konsisten, maka sudah waktunya menyamakan dirinya dengan sosok-sosok hebat lainnya di dunia sinema. Tapi untuk apa disamakan dengan mereka apabila pada akhirnya ia benar-benar mempunyai “suara” sendiri yang membedakannya dari pencipta film lain?

Untuk sekarang cukup tonton ulang Us dan tutup rasa penasaran yang muncul setelah pertama kali melihatnya. Bisa juga kita menemukan makna lain di film atau sekadar bersenang-senang kembali sekaligus memastikan apakah film ini rewatchable—bisa menjadi cult movie di kemudian hari.

3 1/2 dari 5 Kursi Merah