ULASAN,

Kembali Membuka Pintu Terlarang (2009)

1
Shares

Pada tahun 2009 Joko Anwar membuat sebuah karya menawan dengan nama Pintu Terlarang. Film ini menceritakan perjalanan seorang pemahat ternama bernama Gambir (Fachri Albar) menuju misteri dan kengerian yang menyelimuti hidupnya.

Pertama kali menontonnya, noir dan elemen kebarat-baratan lainnya berhasil diadopsi tanpa terasa terlalu memaksa—bahkan terlihat cool. Di tengah-tengah sinema Indonesia yang selalu mengagungkan film setan, Pintu Terlarang berjaya sebagai thriller tanpa mahluk halus di layar lebar tanah air.

10 tahun setelah Pintu Terlarang rilis, kami kembali menontonnya dan mencoba mengulasnya (#10yearschallenge lol). Apabila belum menonton, berhenti membaca karena sekarang waktunya menyaksikan salah satu karya terbaik Joko Anwar ini.

Mari Buka Lagi Pintunya

Pintu Terlarang diadopsi dari novel tahun 2004 dengan judul sama yang ditulis oleh Sekar Ayu Asmara. Film ini mengajak semua yang menonton menuju dunia Gambir; dari keluarga, pekerjaannya sebagai pemahat patung perempuan hamil, hingga kehidupan sehari-harinya. Semua yang menyaksikan akan disodorkan segala harapan dan ketakutan saat karirnya sebagai pemahat sedang memuncak. 

Frustasi dan kecemasan mengelilingi Gambir, bahkan dari orang-orang terdekatnya seperti istri bernama Talyda (Marsha Timothy), ibunya Menik (Henidar Amroe), dan pemilik galeri sekaligus sosok ayah yaitu Koh Jimmy (Tio Pakusadewo).  

Gambir merasa dirinya terjerat oleh tali-tali tidak terlihat yang mengatur hidupnya. Keluarga, karir, dan kepercayaan yang mengatur nasib ditelusuri lebih dalam oleh sang pencipta patung. Perlahan-lahan pintu terlarang terbuka, memanggil dari dalam studio di rumahnya dan akhirnya memutar narasi menjadi 180 derajat.

Pintu Terlarang di Antara Dua Dunia

Di akhir cerita, ternyata penonton hanya dibawa ke dalam pikiran Gambir yang mengimajinasikan satu film ini.

Gambir harus menjalani trauma sepanjang hidupnya yang muncul karena siksaan keluarganya saat masih belia. Ia kemudian membunuh kedua orangtuanya dan dilarikan ke rumah sakit jiwa—mendekam lebih dari 10 tahun. Di dalam sel ia pun mencari pelarian, terus-menerus menjauhkan diri dari masalah serta residu-residu yang memenjarakannya secara fisik dan mental.

Rasa sakit yang ia simpan termanifestasi menjadi imajinasi untuk kehidupan yang lebih baik. Skenario “what if” digunakan Gambir apabila ia menjalani kehidupan normal hingga dewasa. Tragisnya di akhir kisah imajinasinya pun mengkhianati Gambir. Ia memotong tali-tali di hidupnya walaupun sebenarnya tali-tali tersebut diciptakan dan tentunya bisa diatur olehnya.

Gambir membunuh semua orang terdekat yang mengkianatinya; istri, ibu, kawan-kawan, dan sang ayah. Porak-poranda tersebut merefleksikan klimaks kehidupan nyatanya saat ia membunuh kedua orangtuanya setelah Gambir disiksa terus-menerus.

Pintu terlarang bisa jadi metafora untuk dua ruang, satu nyata dan satu imajinasi belaka. Gambir menjalani kehidupan tragis karena saat semua orang bisa lari melalui mimpi atau imajinasi, ia tidak bisa—trauma melakukan sabotase. Pintu terlarang selalu memanggil, mencoba mengingatkan Gambir bahwa ia hanya berada di sel rumah sakit jiwa. Bagaikan jembatan imajiner yang memunculkan pertanyaan kepada dirinya sendiri atas mana yang nyata dan mana yang tidak nyata.

Permasalahan dalam hidup; baik dari diri sendiri atau dari luar dapat membekas. Sebentar atau selamanya, manusia hanya bisa mencoba untuk sembuh atau melarikan diri dari masalahnya. Pelarian adalah sebuah sikap pandang, mengimajinasikan segala hal seperti Gambir atau melakukan tindakan nyata. Pada akhirnya mengkonfrontasi masalah dapat menjadi solusi yang terbaik, menjadi sembuh seutuhnya.

Ekspektasi dan realita, di tengahnya ada pintu terlarang. Masa lalu dan masa kini, di tengahnya ada pintu terlarang. Hari ini dan esok hari, di tengahnya ada pintu terlarang.

Baik atau buruk film Pintu Terlarang menjadi opini masing-masing tiap penonton. Namun seperti film thriller lainnya, isu yang dibawa dapat kita kaitkan dengan apa yang ada di dunia nyata—kadang menarik untuk dibicarakan. Pintu terlarang dapat menghantui siapa saja, termasuk Anda yang baru saja menghabiskan waktu untuk membaca analisa berlebihan dari Pintu Terlarang. Buka pintunya, mari tonton lagi.

Bersulang untuk pintu terlarang! (Foto oleh: Joko Anwar)