KULTUR DAN FILM,

Mencari Klimaks di Climax (2018)

0
Shares

Pada tahun 1990an sebuah grup tari berpesta bersama setelah latihan selama tiga hari di tengah salju. Beda kepribadian beda gaya tarian, membawa harapan dan ketakutannya masing-masing.

Kurang lebih itu plot utama film Prancis yang disutradarai oleh Gaspar Noe ini. Narasi dilakukan dengan visual memukau, melalui kamera yang mengikuti para penari menuju lorong-lorong sekolah sekaligus penginapan.

Spoiler akan diberikan, sebaiknya jangan baca sebelum menontonnya. Tapi apa daya kami menahan kalian semua di zaman dimana orang melihat IMDB atau Rotten Tomatoes dulu sebelum menonton. “Eh BaGuS lOh FiLmNyA, dI ImDb Aja TiNgGi NiLaInYa.” 

Oke kembali ke Climax (2018). Saat berpesta, para grup tari termasuk guru dan disc jockey meminum sangria yang merupakan campuran wine , liquor, danbuah-buahan. Mengikuti tradisi film-film Gaspar Noe yang lain, plot provokasi pun digunakan. Seseorang, entah itu siapa dengan sengaja menuang substansi asing ke sangria bernama lysergic acid diethylamide atau LSD, sebuah narkotika psikedelia. 

Saat anggota grup tari menyadari bahwa minumannya dicampur zat spesial tersebut, porak-poranda terjadi. Saling tuduh-tuduhan siapa yang mencampur LSD, tetap berjoget tiada henti, ling-lung, hingga agresif total adalah berbagai tindakan yang muncul. Film akhirnya menjadi sangat intensedan lantai dansa dengan bendera Prancis raksasa menjadi medan utama untuk menggila. 

Dengan judul Climax, entah mengapa kami memikirkan dan mencari-cari klimaks film ini hingga akhirnya menyadari bahwa setiap orang mendapatkan klimaksnya masing-masing. Memulai dengan pesta bersama, berdansa, kemudian trip. Saat trip mulai, pengalaman tiap orang ternyata berbeda, ya tapi kebanyakan sih bad trip lol

Okekarena total orang yang major trippin balls cukup banyak, kami akan memberikan trip beserta klimaks terbaik tokoh-tokoh film ini. Berikut daftarnya (nomor 4 akan mengejutkan Anda): 

1. Seks dan Nazi

Saat Climax baru mulai ternyata Vice Films ikut terlibat dalam film ini. Lalu pikiran kami bertanya dan berasumsi walau nontonnya aja belum sampai selesai. 

“SJW nih?” dan “Nyebarin pemikiran Liberal Amerika Serikat ga ya nih?” adalah dua dari sekian pikiran yang terlintas. Baik atau buruknya dua pertanyaan tersebut bukan kami yang menentukan, silahkan saja berpendapat sendiri. 

Tapi kami sempat mengira David (Roman Guillermic) akan mendapatkan nasib serta klimaks terburuk di film ini. Kenapa? Karena ia satu-satunya tokoh yang straight white male. Pasca minum sangriapsikadelia, kami memikirkan hal buruk apa yang akan menimpa pria botak ini. Hasrat seksualnya tidak bisa dibendung, perempuan-perempuan pun didekati olehnya. 

Selva (Sofia Boutella) jadi incaran utamanya namun perempuan itu menolaknya terus-menerus hingga film selesai. Saat ia mencari perempuan, muncul pria yang menyukainya yaitu Riley (Lakdhar Dridi) yang ditolak mentah-mentah oleh David. 

Saat David akhirnya mendapatkan kesempatan dengan perempuan lain bernama Gazelle (Giselle Palmer) hingar-bingar psikadelia semakin menjadi-jadi. Seketika kakak dari Gazelle bernama Taylor (Taylor Katle) merelai kedua lovebirds tersebut agar tidak bercinta. Ternyata oh ternyata Taylor mau bercinta dengan adik kandungnya sendiri, messed up man

Kamera mengikuti berbagai karakter dan narasi tiap tripcoba divisualisasikan sebaik mungkin. Saat sudut pandang kembali ke David semua menjadi semakin intense. Ia dipukuli oleh pria-pria kulit hitam termasuk Taylor yang sangat vokal mencapnya sebagai rasis. Kami kira disini ia akan mati, tetapi Selva mencoba untuk merelainya. Setelah itu swastika miring simbol Nazi digambarkan ke kening David yang tidak sadarkan diri oleh Taylor dengan lipstick Gazelle. Belum-belum, trip David belum selesai dan masih berlanjut. 

Bertemu dengan Selva ia ditolak kembali saat perempuan pujaannya mau melakukan girl on girl action. Tidak ada teman bercinta dan kebingungan, kamera mengikuti David ke sebuah kamar dimana Riley dan Daddy (Kiddy Smile) sedang q-timeatau curhat. Disni David terlihat desperate dan mencoba menghampiri Riley yang direspon dengan penolakan, Daddy ikut mengusir.

Kesendirian adalah klimaks David. Di tengah ruang dansa yang menjadi semacam neraka disko, ia mencoba untuk bertahan hingga akhirnya terpukul oleh salah satu penari yang terus berpesta seperti kerasukan. Gelap dan tidak sadarkan diri adalah akhir dari tripDavid. Tapi tidak terlalu parah nasibnya, toh masih ada yang gila trip dan klimaksnya.

2. Seks Sesama Jenis

Selva seperti yang telah dijelaskan mendapatkan klimaks berupa seks sesama jenis. Dengan Ivana (Sharleen Temple) keduanya menggila dengan bercinta saat acid menyala di tubuh. Trip untuk mendapatkan klimaks tersebut cukup melelahkan. Kamera terus mengikuti Selva dan penonton seakan dipaksa untuk membuntuti sosok yang super frustasi. Selva juga menjadi orang pertama yang menyadari sangria dicampur LSD dan yang pertama juga untuk cemas, ling-lung, dan gelisah luar biasa.   

3. Seks Antar Saudara

Seks, seks, dan seks lagi. Apa yang Anda harapkan dari disko penuh psikadelia? Seks dan kekerasan adalah dua hal yang mungkin terjadi. Setelah trip berupa Taylor melindungi Gazelle dari pria-pria yang mendekatinya, Taylor mencoba untuk meniduri adiknya sendiri. Sebelum itu Gazelle overdosis dan itu menjadi klimaksnya karena setelah itu ia bobo. Taylor pun menidurinya dan mendapatkan klimaksnya. 

4. Klimaks Dengan Nama Kematian

Setidaknya ada tiga yang jelas mati di film ini. Omar (Adrien Sissoko) yang difitnah mencampur LSD sehingga diusir keluar. Tripnyaadalah kedinginan dan detik-detik saat nyawanya menghilang menjadi klimaksnya. 

Emmanuelle (Claude Gajan Maull) adalah seorang ibu dari Tito (Vince Galliot Cumant), anak yang terlalu kecil untuk bergaul dengan orang-orang dewasa yangsans parah menggila. Saat sangria terkontaminasi Tito malah kebawah dan meminum, Emmanuelle yang parno mampus mengunci anaknya di ruang listrik. Kunci hilang Tito akhirnya meninggal, Emanuelle pun bunuh diri. Tripkeduanya bagaikan jurang pemisah yang mencoba untuk saling bertemu. Akhirnya mereka bertemu di alam selanjutnya. 

5. Pukul Perut yang Mengandung

Lou (Souheila Yacoub) tidak meminum sangria seperti Omar, otomatis keduanya dituduh. Omar sampai diusir, kalau Lou dipukuli oleh Dom. Alasan Lou tidak minum adalah hamil namun tidak ada yang percaya, trip sebentar namun gila. Satu titik ia menyakiti diri sendiri dengan pisau dan memukuli perutnya sendiri. Pada akhirnya ia kabur keluar gedung, berjalan di tengah salju bersimbah darah. Klimaksnya sulit untuk ditentukan, apakah ia keguguran atau anaknya selamat, atau akhirnya ia ditemukan dan diselamatkan. Kami hanya bisa berasumsi.

6. Psyche!

Semua kepribadian ada di Climax. Salah satunya adalah Psyche (Thea Carla Schott) yang kabur dari Berlin, Jerman karena skena narkoba tak terkontrol. Ia pun berkata bahwa saat teman kamarnya meneteskan LSD ke matanya adalah momen yang membuatnya meninggalkan negara tersebut.

Psyche artinya jiwa atau roh manusia sedangkan psychadalah slang yang kurang lebih memiliki arti Ketipu deh! Seperti definisi kata kedua, apa yang dilakukan Psyche adalah menipu semua orang. LSD dituangkan olehnya tapi semua tidak menyangka karena semua berpikir ia juga menjadi salah satu korban. Padahal ia provokator utama, orang yang membuat grup tari menjadi kelinci percobaan dan orang yang membuat nyawa melayang. 

Tripnya luar biasa, ia hanya berdansa tiada henti di ruang utama bahkan kencing sembarangan. Saat Tito mati musik ikut mati, boombox dimainkan oleh salah satu penari dan Psyche tetap berdansa tiada henti.

Saat disko neraka mulai, semua berjoget liar, pukul-pukulan, dan seks di lantai dansa. Psyche tetap berdansa sendiri tak terganggu. Klimaksnya juga rancu, di akhir film pada saat polisi memeriksa sekolah tempat grup tari berada, Psyche masih berjoget! Lainnya telah tertidur atau mati. Antara disini ia klimaks, atau offscreen atau selamanya trip karena adegan terakhir menunjukkan dirinya meneteskan LSD ke matanya.

Tentang Klimaks

Menurut KBBI, klimaks adalah puncak dari suatu hal, kejadian, keadaan, dan sebagainya yang berkembang secara berangsur-angsur.

Hidup dapat dilihat sebagai perjalanan, sebuah trip. Klimaks akan datang, baik itu saat menjalani hidup atau bahkan sewaktu menghembuskan napas terakhir. Dalam hidup, siapa bilang klimaks hanya bisa satu kali saja? Setelah klimaks muncul antiklimaks, disinilah bagian paling sulit, mencapai klimaks lagi.

Ada yang hanya sekali, ada yang berulang kali, ada yang tidak klimaks sama sekali. Film ini seakan mencoba mengemas klimaks dalam konteks grup tari yang mengalami kejutan bencana. Climax bisa dikaitkan kepada kehidupan secara keseluruhan atau bisa juga sekadar dinikmati tanpa harus overthinking.