ULASAN,

The Villainess (2017), kencan garing bersama Kim Ok-Bin <3 <3

0
Shares

Mengutip dari seorang teman, “Semua akan korea pada waktunya”. Gw sempat percaya dengan idiom ini di 20 menit pertama film villainess.

The Villainess adalah film besutan sutradara yang sedang naik daun, Jung Byung-gil. beliau bertanggung jawab atas semua decak kagum terhadap Confession Of Murder(2012). Film ini menceritakan tentang topik yang paling umum di south korean new wave, vengeance. The Villainess dimulai dengan pengambilan teknik pengambilan gambar magis dengan tensi tinggi tanpa henti yang dijamin akan membuat penonton ikut tegang juga. Bohong banget kalo lo bilang bisa nonton adegan pembuka film ini sembari santai. Digambarkan, seseorang yang kemungkinan besar perempuan, membantai satu bangunan yang isinya 100++ henchmen lemah bermodalkan pisau dan handgun, agak mirip dengan adegan oh dae-su Vs 10000 goons di oldboy namun disini gambar diambil dari sudut pandang orang pertama. kemudian kita akan mengetahui bahwa protagonis kita ternyata adalah seorang perempuan, Sook-hee(Kim Ok-Bin, si gemay di film thirst) yang selesai membantai ratusan henchman dengan maskulinitas rapuh, tertangkap basah-berlumuran-darah-patriarki oleh polisi setempat. namun bukannya dimasukin di penjara, ternyata doi ditempatkan di pesantren spesial ukhti untuk menjadi pembunuh profesional, gak cukup hanya itu, diceritakan juga bahwa ternyata seok-hee tertangkap dalam keadaaan hamil. kegemparan yang gw rasakan di awal film mulai memadam. sebelum dibahas lebih lanjut, engga, gw ga bakalan bahas nilai nilai feminisme dari film ini hanya karena protagonisnya adalah perempuan bad ass.

Ketika durasi film sudah melewati 20 menit, semuanya terasa hambar. momen klimaks seketika hilang dan diganti dengan beberapa drama cheesy ala FTV seperti kisah cinta eks pembunuh bayaran dengan lapdog agensi pembunuh bayarannya, mantan yang sudah mati ternyata masih hidup, sobat karib sesama ex pembunuh bayaran yang tau tau ngabarin alih alih buat nongkrong bareng tapi ternyata doi minta bantuan buat bunuh orang juga. Kehadiran Kim Ok-Bin yang menggemaskan baik dengan rambut pendek ceria dan sikap brutal, penuh letupan emosi atau Kim Ok-Bin dengan rambut panjang, naluri keibuan yang super bijak dengan sedikit trauma cinta yang sebelulmnya tidak dapat menyelamatkan film ini. Gw pun sadar bahwa the villainess ini terasa seperti FTV on steroid ketika di tengah tengah drama tentang romansa antara protagonis kita dengan oppa stalker namun ganteng, Seok-Hee dipanggil untuk membunuh targetnya yang ditutup dengan adegan kejar kejaran liar diatas motor bermodalkan katana dan pengambilan gambar yang gila.

Semakin bertambah durasinya film ini semakin terasa seperti kencan dengan cw cantik namun memiliki kepribadian yang kurang menarik. lo pasti udah tau ini alur pembicaraannya akan kemana dan dia akan jawab apa. lo akan tau bahwa dia akan ngecek bill cuma untuk ditaro lagi dan berharap lo yang bayar full. Perasaan ini persis kayak final twist di film ini, semua terasa dipaksakan dan bertubi tubi. sepanjang film yang penuh darah ini, protagonis kita, fisiknya terluka hanya 2 kali, 2 kali sodara sodara di film dengan durasi 2 jam. namun, luka mentalnya banyak, hal ini mungkin salah satu cara penulis untuk meningkatkan awareness atas mental health kita kawan kawan. setiap unsur relatable yang bisa diselipin itu emas. Eniweisss, gw lumayan kuciwa karena ternyata ini bukan saatnya gw untuk menjadi korea. semoga di film Kim Ok-Bin selanjutnya, atau ketika Kim Ok-Bin dateng di mimpi gw, gw bisa jadi korea seutuhnya

 

dua setengah dari 5 kursi merah