KULTUR DAN FILM,

Annihilation: Perasaan Binasa dan Sifat Destruktif Manusia

3
Shares

Annihilation dapat diartikan sebagai pembinasaan dalam bahasa Indonesia. Binasa sendiri memiliki arti rusak, hancur lebur, dan musnah; film Annihilation (2018) mengingatkan kita semua bahwa sifat destruktif yang ingin membinasakan diri sendiri melekat pada diri kita masing-masing.

Sutradara Alex Garland memberikan kita kisah tentang ancaman dalam bentuk fenomena alam dan juga permasalahaan emosional tokoh di dalamnya — menunjukkan bagaimana pada akhirnya perasaan dan mentalitas seorang manusia memiliki kompleksitas tersendiri.

Plot berputar di Lena (Natalie Portman), seorang ahli biologi dan mantan tentara yang masuk ke dalam medan elektromagnetik bernama The Shimmer bersama empat spesialis lainnya. Lena memutuskan untuk pergi ke The Shimmer setelah suaminya yang sempat bertugas disana telah menghilang dan seketika muncul kembali dengan kondisi sekarat — menjadikan tentara bernama Kane (Oscar Isaac) ini satu-satunya orang yang selamat setelah melakukan ekspedisi ke The Shimmer.

Dalam film rilisan Netflix ini, kita akan mengikuti perjalanan lima perempuan yang ingin mengetahui isi dari tempat yang telah dikarantina oleh pemerintah tersebut.
Di dalamnya, muncul berbagai anomali seperti hilangnya sinyal radio, konsep atas waktu yang buyar, hingga perubahan fisik pada flora serta fauna. Kadang ancaman hadir dalam bentuk beruang mutan tetapi pada akhirnya ancaman terbesar adalah sifat destruktif para tokoh yang dapat menjadi refleksi atas diri kita sendiri, para penonton.

Pembinasaan digunakan dalam berbagai konteks, selain The Shimmer yang memiliki elemen destruktif walaupun tidak langsung, kita bisa melihat bagaimana tiap orang ingin menghancurkan dirinya sendiri. Contohnya membinasakan hubungan suami istri dengan selingkuh atau keinginan untuk bunuh diri. Kedua hal ini dialami oleh tokoh-tokoh di Annihilation dan juga menjadi permasalahan umum dalam dunia nyata.

Film ini memberikan refleksi, sebuah pertanyaan yang kita tanyakan ke diri sendiri dengan bercermin. Apa hal destruktif yang ada di diri kita sendiri?

Bagi para perokok aktif, setiap bungkus rokok yang dibeli menyodorkan fakta berupa peringatan dan bahkan foto yang menunjukkan dampak merokok. Peringatan berisi berbagai penyakit tertulis jelas; dimulai dari kanker, impotensi yang menyerang vitalitas pria, hingga gangguan janin yang menyerang salah satu hal terindah dari dunia ini yaitu anak. Karenanya, rokok menjadi salah satu contoh hal destruktif yang kita lakukan ke diri kita sendiri.

Indonesia adalah surga para perokok. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa Indonesia merupakan pasar rokok ketiga di dunia setelah Tiongkok dan India. Dilansir dari Tempo.co, Menteri Kesehatan Nila Moeloek juga menyatakan bahwa di tahun 2017 36,3% dari sekitar 260 juta penduduk di Indonesia adalah perokok. Ya saudara-saudari, sepertiga warga negara kita memiliki kebiasaan destruktif.

Jadi saat Starbucks dan gerai kopi lainnya pada akhirnya menempelkan tulisan “dapat menyebabkan kanker” layaknya rokok, para pelaku bisnis kopi tidak perlu cemas. Karena manusia kerap mencintai sifat destruktif itu, baik sadar atau tidak.

Menggigit kuku di jari kita dapat berujung pada penyakit paronikia, kebohongan kecil berujung kepada kebohongan besar, terlalu banyak memakan junk food menyebabkan berbagai penyakit, dan terlalu sering melihat telepon genggam? Candu yang dapat berujung kepada dampak negatif.

Melalui Annihilation, kita bisa mencoba untuk mencari dan mengakui bahwa sifat destruktif itu ada di diri kita masing-masing. Masalah itu buruk atau baik, ingin diperbaiki atau dibiarkan saja adalah hal lain yang harus ditentukan oleh setiap masing-masing individu.

Sifat destruktif yang ada di diri kita masing-masing membuat kita manusia, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Ambil napas dan tanya ke diri kita sendiri tentang destruksi yang ada.