LAIN LAIN YANG BERHUBUNGAN DENGAN FILM,

Sinema Selekta: Film Terbaik Tahun 2017

0
Shares

Dunia sinema terasa lebih dinamis di tahun 2017, ya atau mungkin itu sekadar perasaan kami saja. Baik film barat atau luar negeri hingga beberapa film Indonesia yang patut diperhatikan; semuanya berkualitas dan beragam.

Sulit untuk menentukan apa film terbaik di tahun 2017. Apalagi dengan keterbatasan bioskop Indonesia yang tidak menayangkan semua film. Lelah juga kalau mereka hanya memprioritaskan box office dan film superhero; walaupun untungnya film drama, film yang patut dibilang karya seni, dan film award bait kadang tetap rilis. Setelah Oscar season pun biasanya film-film berkualitas baru ditayangkan, apalagi yang berhasil memenangkan penghargaan.

Setelah berdiskusi dan berpikir panjang kami akhirnya memutuskan apa saja film-film paling yahud di tahun lalu. Walaupun dengan keterbatasan akses, berikut adalah karya-karya sinema terbaik di tahun 2017:

1. The Killing Of A Sacred Deer

Bilal

Setelah berhasil dengan metafora cinta ala lobster di dunia dIstopia, Yorghos Lanthimos kali ini mengambil metafora sebuah rusa di dunia suburban. Kerjasama kembali dengan Collin Farrel, masih serupa seperti penampilan yang sebelumnya kaku dan canggung, kali ini dia mempunyai keluarga lengkap yang bahagia dan mungkin terlalu sempurna untuk diidamkan setiap insan yang ingin berumah tangga.

Collin Farrel berperan sebagai Steven yg berprofresi sebagai dokter bedah jantung dengan satu kesalahan atau bukan, sangat mungkin didebatkan tergantung perspektif, bisa berakibat panjang bahkan fatal. Potret perjalanan keluarga harmonis ini pun terus diusik oleh aksi mistis remaja tanggung bernama Martin yang terus menghantui Steven, istri, dan anak-anaknya. Martin adalah seorang pria emosional, penuh konflik batin yang hanya dia mampu untuk mengerti dan melampiaskannya. The Killing of a Sacred Deer adalah sebuah karma, tragedi, dan mimpi buruk yang menjadi kesatuan yg utuh.

Selain itu Bilal juga memilih Good Time sebagai film-film terbaik karena memberikan energi tiada henti tentang bagaimana sebuah keputusan-keputusan yang dilematis disertai dengan pemecahannya. Ditambah dengan scoring electro era 80an yang heart-pounding dan brilian dari Daniel Lopatin alias Oneohtrix Point Never. Lalu Iggy Pop menutupnya dengan penuh kebijakan dipersembahkan bagi para pemuja kebajikan dan penghamba bajingan.

2. Blade Runner 2049

Dimas

Sebagai fanboy yang baik, gw menominasikan blade runner 2049 sebagai film favorit 2017 gw karena segala yang gw impikan di sequel blade runner, ada di blade runner 2049, malahan ada beberapa revelasi di film ini yang bikin gw tercengang banget. Ekspektasi gw terhadap film jadul favorit gw (jurrasic park, star wars, blade runner, jumanji, dsb) yang akan dilanjutkan sequelnya untuk pasar milennial sebenarnya sangat tinggi, dan hampir semuanya ga ada yg bisa mendekati dari ekspektasi tersebut tapi Dennis Villeneuve benar benar berhasil meneruskan obor yang sudah dijaga baik baik oleh Ridley Scott.

Segala hal dilakukan oleh Villeneuve dengan tingkat presisi yang sempurna sehingga tetap menjaga status kultus dari franchise ini, dibuktikan dengan betapa buruknya angka penjualan film ini di box office jika dibandingkan dengan budgetnya. Persis seperti blade runner pertama, blade runner 2049 akan lebih dihargai pada puluhan atau ratusan tahun mendatang.

Dimas juga memilih Mother! dan It sebagai film-film terbaik lainnya yang patut di-mention.

3. Phantom Thread

Rama

Oke, artikel ini baru rilis padahal sudah bulan April 2018 karena keegoisan saya untuk menonton film-film Oscar di bioskop. Pada akhirnya banyak film yang tidak rilis di layar lebar, salah satunya adalah Phantom Thread. Satu lagi mahakarya dari Paul Thomas Anderson.

Menceritakan seorang elit yang bekerja sebagai desainer busana wanita di Inggris, Reynolds Woodcock (Daniel Day Lewis) menjalani hidupnya dengan penuh perhitungan—super elegan. Mommy issues, tidak suka diganggu, selalu ditemani saudarinya kemana pun ia berada, tapi yang paling penting, tidak pernah mengecewakan pelanggannya dengan gaun luar biasa yang ia garap.

Masalah datang dalam bentuk wanita bernama Alma Elson (Vicky Krieps), seorang objek di mata Woodcock yang akhirnya dijadikan model. Manipulasi dan kontrol kekuasaan menjadi tema utama dalam film ini, sebuah kisah sederhana dengan problema kelas atas di tahun 1950-an yang menjadi menarik saat kedua tokoh utama mencoba bergulat sekaligus berdansa dalam hubungan. Skor cemerlang, penggunaan film di karya sinema ini yang sangat memanjakan mata seperti film PTA lainnya, dan terakhir tidak lupa juga akting sempurna dari semua pemerannya.

Apa film favorit kalian di tahun 2017?