ULASAN,

The Last Jedi: Menyempurnakan Saga Opera Antariksa Dengan Makna

0
Shares

Opera antariksa terbaik sepanjang masa kembali berlanjut melalui Star Wars: The Last Jedi. Sebuah kabar baik yang membangun antisipasi besar; saat akhirnya datang di layar lebar, menontonnya bagaikan sebuah ritual. Rogue One yang rilis pada tahun 2016 saja sudah cukup membuat para penggemar hingga casual film goers terkesima, apalagi melanjutkan saga orisinilnya.

Star Wars bisa dilihat dengan banyak perspektif, sebuah kisah baik melawan jahat yang tidak lekang oleh waktu menjadi salah satunya. Memang simpel, akan tetapi sederhana tidak berarti dangkal karena nilai atau pesan moral yang mendasar dapat memberikan efek luar biasa pada manusia.

Karya seni bernama film dapat dibilang baik atau berkualitas tinggi apabila relevan pada masanya atau memiliki makna di dalamnya. Sedangkan dalam Star Wars: The Last Jedi, efektifas kisah sederhana, relevansi, dan makna hadir dalam film yang melanjutkan waralaba besar George Lucas yang kini telah dibeli Disney.

The Last Jedi melanjutkan kisah Rey (Daisy Ridley) dan kawan-kawan pemberontak Resistance yang dipimpin oleh General/Princess Leia (Carrie Fisher) melawan First Order. Diceritakan melalui berbagai sudut pandang bagaikan kaleidoskop, penonton akan diajak menguak berbagai pertanyaan yang timbul di Star Wars: Force Awakens (2015).

Setelah Rey dan Chewbacca (akhirnya Peter Mayhew digantikan Joonas Suotamo) berhasil menemukan Luke Skywalker (Mark Hamill), wanita dengan kekuatan force yang luar biasa ini meminta untuk dilatih sang Jedi terakhir. Intrik guru-murid muncul saat Luke memberikan kenyataan dari Jedi dan konsep force di tempat isolasinya — sebuah pulau di planet Ahc-To yang dikelilingi lautan.

Sementara itu, Resistance harus bertempur mati-matian melawan First Order yang dipimpin oleh Snoke (Andy Serkis) serta dua bawahannya yang haus akan kekuasaan yaitu Kylo Ren (Adam Driver) dan General Hux (Domhnall Gleeson).

Perang bintang terjadi dan Resistance harus mengalami kekalahan besar. Pilot andal dan karismatik Poe Dameron (Oscar Isaac), rebel scum penuh comic-relief yang semakin berguna Finn (John Boyega), panutan bagi semua rebel Rose Tico (Kelly Marie Tran), dan tentunya BB-8 mencari berbagai cara agar Resistance dapat melarikan diri dari kejaran armada penghancur First Order.

Konflik Dua Arah dan Character Development

Menggabungkan hal terbaik dari original saga dan pendekatan lebih dark dari Rogue One, film yang disutradarai oleh Rian Johnson ini menghasilkan karya luar biasa yang dapat memanjakan mata dan telinga (thanks to John Williams) penonton. Dari segi cerita, konflik bukan hanya terjadi dari dua pihak yaitu Resistance dan First Order, tetapi juga terjadi dalam berbagai aspek lainnya.

Pertikaian internal kedua belah pihak terjadi. Sebut saja Resistance yang sempat terbagi menjadi dua saat Poe menganggap Admiral Holdo (Laura Dern) tidak sanggup memimpin. First Order pun mengalami permasalahan yang sama melalui dualisme kepemimpinan Kylo dan Hux.

Setiap karakter di Last Jedi pun seakan dipaksa berkembang oleh kejadian serta permasalahan yang hadir di depan mata mereka. Call me cheesy, tapi konflik batin tiap karakter juga kerap muncul.

Contohnya adalah Rey yang harus mencari kenyataan dari insiden Kylo atau Ben Solo dengan Luke, membuat dirinya ragu sepanjang film. Luke sendiri telah mengasingkan dirinya dari force, bahkan mengklaim bahwa Jedi membawa kehancuran kepada galaksi. Keduanya mengalami konflik dalam diri dan juga satu sama lain.

Relasi masterpadawan di Last Jedi cukup menarik. Dapat merepresentasikan tua-muda, lama-baru, pesimisme-optimisme, dan sifat berlawanan lain yang dimiliki oleh Luke dan Rey — duality at its best. Dalam perjalanannya mereka menemukan titik tengah yang menjadi resolusi, Luke belajar dari Rey dan Rey belajar dari Luke.

Konflik dalam diri menjadi salah satu tema yang kental di Last Jedi, bahkan hal ini sudah terlihat sejak Force Awakens.

Sejak Episode VII, Finn harus menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Meninggalkan First Order hingga akhirnya berjuang bersama Resistance. Hal yang membuat karakter ini menarik adalah fakta dimana ia masih berjuang melawan sifat egois untuk lari dan menyelamatkan diri, meninggalkan para pemberontak.

Character development terus hadir, menuai pro dan kontra karena beberapa karakter mengalami nasib yang tidak sesuai ekspektasi penonton. Well fuck them, kita bisa melihat struggle Poe untuk menjadi pemimpin yang juga mementingkan kesabaran dan taktik non-kekerasan. Kita bisa melihat jatuh bangkitnya sosok pahlawan bernama Luke Skywalker. Tanpa memikirkan light atau dark side, Kylo juga menjadi salah satu karakter yang berkembang dengan luar biasa.

Banyak tema yang dibahas di Star Wars; dari harapan, konsekuensi peperangan, politisasi kelompok, korupsi, kejatuhan, kebangkitan, hingga takdir. Tapi di atas segalanya, kebaikan melawan kejahatan atau light side melawan dark side masih menjadi tema utama sejak tahun 1977.

Visual, kostum, dan kreasi fantasi yang mengisolasi penonton dari dunia nyata tidak pernah mengecewakan. Perang tergambarkan dengan baik dan adegan terakhir di planet garam menunjukkan bagaimana The Last Jedi berhasil menjadi salah satu film Star Wars yang terbaik.

Tidak mencoba untuk sama seperti Empire Strikes Back bahkan seakan menolak klise-klisennya, Rian Johnson tetap memberikan homage atau adegan-adegan paralel. Pada akhirnya The Last Jedi berdiri sebagai film Star Wars yang sempurna, melanjutkan saga dengan memuaskan.

5 dari 5 kursi merah