KULTUR DAN FILM,

Pada Akhirnya Ini Cuman Sebuah Film: Bagaimana Marlina Membunuh Movie Magic

0
Shares

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak memberikan angin segar di perfilman Indonesia dengan menggabungkan kisah kekerasan kampung dan atmosfir western/barat.

Berlatar di Sumba walaupun aktornya mayoritas non Sumba, film karya Mouly Surya ini membahas beragam isu menarik dengan semangat arthouse yang kental dengan simbolisme. Kekerasan pada wanita, patriarki, keluarga, keadilan, dan siklus hidup menjadi pembahasan dari film yang memuja shot landscape ini.

Film ini cukup baik, menggaet lebih dari 45 ribu orang yang menyukai spaghetti western, Quentin Tarantino, dan film “beda” secara keseluruhan dengan pasar Indonesia. Anggap saja coba-coba berhadiah.

Kemudian setelah saya diskusi langsung dengan para pembuat film, movie magic pun seakan hilang.

“Bagaimana memerankan orang Sumba sebagai orang non-sumba, apakah ada ketakutan?”
“Tentu ada tapi Mouly bilang ke saya pada akhirnya ini cuman sebuah film,” ungkap Sang Pembunuh (Marsha Timothy) di Coffee Club Plaza Senayan pada tanggal 21/11/17.

Akhirnya ini cuman sebuah film? Sebuah justifikasi sempurna setiap pembuat film yang ingin memutuskan koneksi kepada penonton dan menghilangkan “magic” dari karyanya.

Kritik hadir untuk membangun, memperbaiki, atau memberikan perspektif pada sebuah karya, ya setidaknya mereka mencoba. Anggap saja mereka konsumen terbaik dari produk yang bernama film.

Gods of Egypt (2016) dikritik karena whitewash atau aktor-aktor kulit putih yang memerankan karakter di Mesir. Ah, tapi tidak apa-apa pada akhirnya ini cuman film. Bagaimana dengan Mr. Yunioshi, pria Jepang yang secara ofensif dan rasis diperankan oleh kulit putih di Breakfast at Tiffany’s (1961)? Santai saja, hal seperti ini dan blackface adalah hal yang umum, toh pada akhirnya ini cuman sebuah film.

Bagaimana Batman bisa sampai ke Gotham dari Lazarus Pit super cepat di TDKR (2012)? Bagaimana bisa Jack tidak ikut naik ke kayu besar yang menyelamatkan Rose di Titanic (1997). Tenang saja, untuk apa memikirkan plot holes itu semua kan pada akhirnya cuman film.

Banyak yang mengulik tentang Overlook Hotel dan fun facts di The Shining (1980). Tapi untuk apa? Lupakan saja hal itu karena pada akhirnya ini cuman film.
Film-film Wes Anderson, Coen Brothers, atau Quentin Tarantino penuh dengan detail, trivia, dan adegan-adegan tidak normal. “Pada akhirnya ini cuman film” akan meruntuhkan keindahan sinema dari karya-karya mereka.

Apabila Marlina ingin bersaing selayaknya sebuah film berkualitas, maka kritik pada ketidakcocokan cast, plot hole, dan berbagai kecacatan lainnya harus diterima dengan baik. Jangan mulai dengan kata-kata “untuk film Indonesia ini udah bagus kok” atau “sok tau lo emang lo bisa bikin film kayak gini.” Sekali lagi, kritik dibutuhkan dan jangan gunakan handicap apa pun dalam melihat sebuah karya.

Bagaimana menurut Anda, apakah kata-kata di balik layar seperti ini merusak movie magic?