ULASAN,

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017): Kisah Absurd Koboi Sumba Pasca Perkosa

1
Shares

Di penghujung tahun 2017, penikmat film lokal diberi sebuah rahmat tiada tara dalam format rilisan 3 film terbaik oleh Hyang Widhi. Ada remake film horror yang overhyped, cerita cinta remaja semi ftv semi arthouse, dan Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak.

Film yang berlatar di Sumba ini adalah karya teranyar arahan Mouly Surya yang hobby bikin film dengan judul panjang, kayak judul lagu band band “emo” keluaran label Fueled by Ramen. Mungkin kita sok tau disini, tapi sepertinya Mouly benar-benar sudah tidak peduli dengan pasar lokal yang bisa puas dengan nonton film lawak reborn berkali kali atau film komedi berlakon stand up komedian lokal yang ironisnya ga lucu sama sekali.

Lantas apa yang dicari oleh sutradara yang sebelumnya merilis What They Dont Talk When They Talk About Love (2013) ini? Kami rasa Mouly secara langsung/tidak langsung memberikan fokusnya untuk mengejar audiens festival internasional.

Plot simple, long shot sabana Telletubies-esque yang indah, dialog singkat, simbolisme, dan gore berupa kepala yang dipenggal adalah senjata rahasia Mouly di film ini.

Spolier pun dimulai.

Film ini dibagi menjadi empat babak yang menceritakan perjalanan protagonis kita. Pre-rape, post-rape, pre-rape (2), dan akhirnya climax-rape. Dengan premis sesimple itu, kami sebenernya berharap Marlina si Pembunuh dibuat hingga over time karena empat babak saja kurang cukup.

Marlina (Marsha Timothy) adalah perempuan malang yang baru saja keguguran dan ditinggal mati suaminya. Tidak cukup disitu, rumah dia di satronin maling yang datang dari pintu depan rumahnya sendiri ketika ia sedang masak di dapur. Marlina menyambut maling tersebut dengan ramah, bahkan menyediakan teh atas permintaan si maling (Egy Fedly) dengan ikhlas.

Kejanggalan di film ini tidak berhenti disitu, ini hanyalah permulaan, sisanya lebih baik kalian tonton sendiri. Sebuah absurditas atau memang budaya? Coba direfleksikan dahulu.

Gambaran orang-orang di film ini juga memperlihatkan berbagai sisi yang memancing emosi. Dari absurditas norma, budaya, hingga tingkah laku yang memperlihatkan sikap stoic. Contohnya kita bisa melihat seorang preman dan pembunuh yang bertingkah super sopan kepada satu sama lain, sampai ke detik detik akhir ajal mereka. Polisi yang sibuk main pingpong walaupun ada orang yang mau lapor kejahatan (yang ini gak absurd sih, fuck the police).

Di film ini pun kita bisa melihat betapa nyamannya Marlina dan Novi (Dea Panendra) pipis sembarangan di pinggir jalan, dibawah terik matahari tanpa tissue basah. Sesuatu yang sangat asing tetapi kami kagumi juga di saat yang bersamaan.

Perlu diingat bahwa absurd di mata kita tidak berarti absurd di mata orang/masyarakat lain.

Marlina si Malang dan Upaya Sinemojo Untuk Menemukan Makna

Oke mungkin ini paragraf yang tepat untuk membahas pesan feminisme dari film ini, tapi tau apa kita soal feminisme. Kami juga ga tau apa-apa soal film making juga sih kalo dipikir pikir… Yaudahlah ya?

Tapi ya kalau boleh mencoba, film bisa memiliki makna. Hal ini dapat dipadankan dengan konsep semiotika yang bekerja sebagai metode analisis untuk mengkaji tanda-tanda ini.

Menurut filsuf dan feminis bernama Rosemarie Tong dalam buku yang berjudul Feminist Thought (2010), ada delapan macam aliran feminisme. Salah satunya adalah feminisme eksitensialis yang membahas mengapa wanita dihubungkan dengan ketergantungan, komunitas, dan hubungan. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak memiliki tanda-tanda atau makna yang dapat dihubungkan dengan konsep ini. Muncul perbedaan kenyataan antara konsep feminin dan maskulin. Layaknya konsep patriaki lainnya, film ini mencoba untuk menggambarkan dan melakukan kritik padanya. Bagaimana Marlina harus melawan arogansi masyarakat dan literally mengambil kepala orang yang seakan mewakili puncak maskulinitas.

Nuansa film koboi/western sangat santer di film ini. Dari tone warna, longshot landscape, menunggangi kuda bareback (walaupun sayangnya tidak ada adgan kuda berpacu), sampai scoringnya juga. Zeke Khaseli cs terasa berusaha keras mengimitasi Ennio Morricone, andai dia ga berusaha sekeras itu.

Pada akhirnya film ini menjadi karya tidak biasa yang menaikkan derajat dari keragaman sinema Indonesia. Rasa arthouse yang menggabungkan isu lokal telah dicoba; dibilang cocok atau tidak cocok itu masalah lain, hal yang pasti Marlina si Pembunuh memiliki makna dalam cerita. Sebuah tontonan yang menyenangkan dan menghibur bagaikan naik kuda di padang Sumba.

tiga setengah dari lima kursi merah