KULTUR DAN FILM,

Sinema Selekta: Film Horor Indonesia Terbaik

0
Shares

“Beberapa waktu yang lalu, gw lagi buka instageram lalu sontak gw geram dibuatnya. gak geram geram amat juga sih, cuma jiwa netizen gw agak terpidjoe karena ada post gambar, poster pengabdi setan™ (2017) yang tulisannya film horror indonesia terbaik sepanjang masa.”

Ok ok ok ok ok, itu adalah kegeraman Dimas terhadap penilaian prematur para netizen, warganet, apalah..

Tapi disini kami bukan mau bahas pengabdi setan™ (2017) karena kita sudah pernah bahas itu sebelumnya. Tolong di perhatikan dengan seksama, fokus.

Kami ingin memberikan beberapa rekomendasi film horror lokal yang membuat kami yakin bahwa Pengabdi Setan (2017) bukanlah “film horror Indonesia terbaik sepanjang masa”.

1. Jelangkung (2001)

Jelangkung (2001) atau judul versi Hollywood nya The Uninvited (2001) adalah film besutan Rizal Mantovani & Jose Purnomo yang menceritakan tentang sekumpulan mahasiswa dengan status sosial menengah keatas yang sedang bosan dengan rutinitas hedonistik mereka dan memutuskan untuk “uji nyali”, mendatangi tempat tempat angker di ibu kota dsb, standar bgt sih sebenernya. Tapi, di dalam film horror, plot ga penting. yang penting itu adalah darah, tulang belulang, iblis, aksi musyrik, dan Harry Pantja. Semua ada di film jelangkung (2001).

Jelangkung (2001) memperkenalkan kita kepada beberapa fenomena gaib lokal yang sedang naik daun pada masa itu seperti : rumah kentang, pastur jeruk purut, tuyul, suster ngesot, dan Harry Pantja. FYI, Harry Pantja terlihat sangat prima di film ini.

Jelangkung (2001) memiliki berbagai adegan memorable yang masih gw inget bgt sampe sekarang. Gw masih inget waktu dj winky mencium pacarnya di film yg namanya siapa gw lupa itu, itu pertama kali gw liat orang indonesia ciuman di bioskop, gila ga sih?? Adegan lain yang bener bener masih vivid di kepala gw adalah, ketika Soni (Harry Fuckin Pantja) lagi buka lemari kaca di kamar mandi rumah sakit angker, tampak suster ngesot di refleksi kaca. Belum lagi, ada adegan ketika Soni (Harry-the maestro-Pantja) cs mendatangi seorang dukun, dan diyakini, oleh penonton indonesia, dalam adegan itu ada sebuah “penampakan” yang munculnya sekejab. Berhubung jaman dulu belum ada situs streaming film, penonton yang penasaran terhadap adegan tersebut harus beli tiket, duduk, dan menonton jelangkung (2001) dari awal hanya untuk melewati momen “penampakan” tersebut untuk yang ke dua puluh kalinya. Padahal, Jose purnomo hanya menyisipkan klip gambar setan, 1 detik ala david fincher di Fight Club (1999). Teknik marketing film bintang lima.

Namun, sudah kodratnya kita, manusia untuk tidak mengetahui kapan waktu yang tepat untuk berhenti sebelum kita menghancurkan diri kita sendiri™. jelangkung (2001) yang kultus ini harus dinodai dengan kehadiran tusuk jelangkung (2003), jelangkung 3 (2007), Jailangkung (2017), dan absen nya Harry Pantja di 2 film sekuel itu.

btw, gw udah bilang Harry Pantja terlihat prima banget di film ini kan?

– Dimas

2. Keramat (2009)

Keramat adalah film yang bertemakan long-lost horror relationship dengan pengambilan angle kamera subyektif. Bermula dari sebuah tim produksi film Menari di Atas Angin, Migi, sang aktris dan kru menyambangi daerah Bantul untuk memulai pra-shooting.

Cinta dan rasa rindu memang kadang tidak masuk logika dan cenderung mistis. Dalam perjalanannya Migi dirasuki oleh seorang bernama Nyi Pramodawerdani yang ternyata dari pohon silisilah masih keturunan darinya. Ya, sebuah kebetulan yang spiritual bukan?

Monty Tiwa berusaha untuk membuat film horror ini serealistis dan seriil mungkin dengan elemen- elemen kearifan horor lokal daerah Jawa seperti suara gamelan, nyanyian sinden, dan pantai Parangtritis yang termasyhur dengan cerita legenda urbannya. Film ini juga tidak memakai ilustrasi musik sama sekali dan lebih memilih untuk menangkap suara-suara samar yang terdengar.

Keramat bukan sekadar untuk menakut-nakuti, lebih dari itu Keramat adalah sebuah pesan moral panjang tentang alam dan hal-hal klenik yang terkandung didalamnya.

– Bilal

3. Malam Jumat Kliwon (1986)

Sisworo Gautama Putra sebagai sutradara dan Suzanna sebagai lakon utama adalah rumus mahakarya horor Indonesia.

Malam Jumat Kliwon (1986) menjadi yang terbaik dalam segi cerita, kehadiran drama, dan atmosfir teror yang menyelimutinya. Film yang menguak misteri seorang novelis bernama Ayu (Suzanna) ini mendobrak standar film horor melalui alur hingga dinamika dari para tokoh.

Ketertarikan Ayu untuk menginap di sebuah rumah yang jauh dari keramaian untuk menulis membawa kejanggalan. Belum lagi kehadiran pembunuh, rapist, dan mahluk halus sundel bolong (juga diperankan oleh Suzanna) menjadi bahaya nyata yang harus dihadapinya.

Keseraman film ini bisa dibilang memiliki nilai-nilai cheesy dan campy apabila ditonton di abad ke-21 ini, tapi coba dulu nonton sendiri dan uji nyali Anda apakah classic Suzanna flick ini cukup seram. Sebuah karya multi spektrum, kita bisa dibawa takut, tertawa, sedih, hingga kebingungan di film horor penuh drama ini.

Spoiler, kalian bisa melihat Suzanna shred a classic motorcycle kayak kaka-kakak sekepal aspal, melihat dance number antara hantu dan hansip (diperankan oleh Bokir tentunya), dan oral seks antara pria cebol dan waria; fucking sick man.

– Rama