ULASAN,

Pengabdi Setan (2017): Teror Mencekam Dari Remake Horor Versi Milenial

2
Shares

Horor menemukan pasarnya kembali saat sutradara bernama Joko Anwar melakukan remake pada salah satu film paling angker di Indonesia.

Teror mencekam dan keseraman spiritual menjadi kunci kesuksesan film horor Indonesia. Pengabdi Setan (2017) pun melakukan eksekusi dengan cukup baik, dari segi film itu sendiri hingga segala promosi yang dibuatnya.

Alkisah sebuah keluarga harus menjalani skenario paling seram di rumah mereka setelah ibunya meninggal dunia. Sang ayah pun harus mengurus keuangan keluarga yang menipis sehingga pergi ke luar kota, meninggalkan mertua dan empat anaknya.

Tanpa smartphone dan sosial media, Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nassar Anuz), dan Ian (M. Adhiyat) mengalami pengalaman spiritual alias melihat setan tanpa bisa menelpon bantuan, share di instastory, atau tweet the hell out of it.

Pemilihan latar waktu tahun 1980an menjadi nilai lebih karena hubungan sesama manusia terlihat nyata, teknologi genggam belum merajalela, dan semua terlihat bergaya retro cool. Saya rasa ini poin kuat Pengabdi Setan, memilih sebuah era di masa lampau sehingga mendapatkan efek vintage. Mirip seperti karya James Wan bernama The Conjuring (2013) yang berlatar di tahun 1970.

Sewaktu menontonnya saya merasa senang bagaikan bocah naik roller-coaster karena film ini terasa menyeramkan. Tetapi perasaan itu memudar di akhir-akhir film karena alur yang berlarut dan pemaksaan pada plot. Selain itu saat “setan” terus menunjukkan wujudnya, perasaan takut pun perlahan menghilang.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Pengabdi Setan memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu film horor Indonesia terbaik. Kisah pemuja setan yang menghadirkan “zombie” ini dapat dibilang satu level dengan Jelangkung (2001), Pocong dan sekuel-sekuelnya, hingga classic Suzanna flick seperti Sundel Bolong (1981).

Hal yang perlu diingat adalah fakta bahwa film ini remake dari Pengabdi Setan tahun 1980. Pada jamannnya film itu memberikan standar tinggi pada perfilman Indonesia. Tidak percaya? Tonton dan rasakan horor elegan melalui sinematografi wahid yang kadang dapat dipadankan dengan pencipta film Hollywood seperti Stanley Kubrick. Versi baru pun memiliki sinematografi berstandar tinggi dan juga mengambil inspirasi dari film-film horor lain, hal yang sangat wajar.

Remake ini mengambil langkah yang berbeda, dari keluarga, dinamika, hingga resolusi akhir film. Dahulu agama, sekarang ustadznya selalu dilanda bencana. Kemiripan ada, homage diberikan, tetapi perbedaan signifikan dari kedua film ini membuat setiap film dapat berdiri dengan sendirinya sebagai karya horor memorable.

Jiwa Horor yang Sama

Joko Anwar selalu mengeksplorasi estetika modernitas dan sifat kebarat-baratan dalam karyanya. Hal tersebut menjadi refleksi masyarakat yang telah hadir sejak zaman penjajahan saat R.A. Kartini mengkritik orang Jawa yang kebarat-baratan di tahun 1902. Karena itu ia mengambil jalur berbeda saat menyajikan film ini; kontra-spiritual tetapi tidak sepenuhnya rasional, protagonis seakan tanpa harapan, dan ancaman tiada henti bahkan saat layar telah padam.

Sedangkan film orisinil yang disutradarai oleh legenda horor Indonesia Sisworo Gautama Putra memiliki nilai-nilai timur, mungkin beberapa orang akan berargumen dan bilang timur tengah. Rasionalitas, kegiatan tidak berarah, dan main dukun seakan diserang dalam film aslinya. In a nutshell spiritualisme selain agama dicap bersekutu dengan setan dan hal-hal berbau duniawi hanya akan mengantarkan mayat di depan rumah untuk mengingatkan diri kita pada Yang Maha Kuasa. Messed up but really good.

Karya Sisworo dan Joko seakan bertolak belakang walaupun “jiwa” sinemanya tidak jauh berbeda. Apabila bulan September 2017 ada wacana untuk membuat film remake versi milenial dari G30S PKI, Joko Anwar sebenarnya telah melakukannya terlebih dahulu dengan remake Pengabdi Setan yang (entah langsung atau tidak) tertuju untuk milenial.

Film ini cukup bagus dan dapat bersaing dalam segi kualitas. Tetapi untuk dibilang sebagai film horor terbaik di Indonesia saya rasa tidak. 3 dari 5 kursi merah.

Bunyi bel Ibu pun terdengar.

Rama Indirawan