ULASAN,

Breaking The Waves 1996 – Demented Love Story

1
Shares

ketika mendengar nama Lars Von Trier, kira kira apa yang hadir di benak kalian?
basistnya rancid yang punya banyak side project? bukan, itu Lars Fredriksen
tattoo artist slash make up mogul? bukan..bukan.. itu Kat Von D
jadi, siapa sih Lars Von Trier??

Lars Von Trier adalah sutradara asal Denmark yang memiliki hobby unik, hobbynya adalah berbagi perasaan cemas, gelisah, tersiksa, dan keraguan yang selama ini ia pendam kepada seluruh dunia via karya karyanya. Kalau netizen indonesia pada berteriak keras keras mengenai “balas lewat karya” via jempol mereka, LVT lebih memilih untuk berbagi lewat karya.

Selain gemar berbagi ke-na’as-an lewat karyanya, LVT juga sepertinya terobsesi dengan trilogy, terhitung sampai sekarang sudah ada 4 trilogy yang dihasilkan dari filmographynya, trilogy ala LVT bukan seperti trilogy lord of the ring atau trilogy batman Christopher Nolan. Trilogy ala LVT tidak memiliki benang merah cerita antar film filmnya, melainkan emosi, emosi adalah benang merah yang menyambung trilogy besutan LVT. Kali ini gw akan membahas film LVT berjudul breaking the waves(1996) yang merupakan bagian dari The Golden Heart trilogy.

Breaking the waves mengambil latar di dataran tinggi skotlandia, jauh dari gemerlap kemegahan industri di inggris dan irlandia, Kita diperkenalkan dengan Bess McNeal(Emily Watson) seorang gadis polos,perawan, naif, taat agama, dan rajin beribadah yang lagi diatas awan karena ia akan menikahi lelaki pilihannya, Jan (Stellan Skarsgard). Jan bekerja di kilang minyak lepas laut yang tidak begitu jauh dengan desa tempat Bess tinggal. Hampir seluruh penduduk desa tidak setuju dengan pernikahan antara Bess dan Jan, namun tidak ada yg bisa menghentikan mereka berdua karena mereka benar benar mencintai satu sama lain tanpa alasan apapun. Kakak Ipar Bess, Dodo (Katrin Cartlidge) mengatakan dengan jelas kepada Jan bahwa ia tidak sudi Jan menikahi adiknya, karena menurut Dodo, Bess “agak sinting” dan Jan pasti hanya akan menyakitinya kelak, tapi Jan tetap tidak peduli karena sudah terlalu dibutakan oleh cinta. Ketika masa bulan madu mereka selesai dan Jan harus kembali ke kilang minyak tempat ia bekerja, Bess terlihat begitu tersiksa, Ia sampai rela nginep di booth telpon umum demi menunggu telepon dari suami tercinta. Bess diperingatkan oleh penduduk desa lainnya untuk tidak terlalu mencintai Jan, namun hal ini bukanlah sesuatu yang bisa diatur seenak jidat, ga ada switch on-off yang bisa mengatur perasaan seseorang. Tiap malam Bess berdoa, ia minta agar Jan cepat pulang dan kembali ke pelukannya, dan doa nya terkabul, Jan pulang kembali ke pelukan Bess namun dengan kondisi lumpuh dari leher ke bawah, karena kecelakaan pekerjaan. Disinilah cobaan terberat untuk Bess McNeal hadir, Jan meminta Bess untuk meniduri lelaki lain dan menceritakannya sesudahnya, demi kelangsungan hidupnya.

Seperti biasa, LVT gak pake basa basi langsung mencampur aduk elemen elemen yang tidak bersinergi menjadi suatu kesatuan yang menyiksa. Iman, spiritualitas, kegilaan dan seksualitas adalah 4 hal utama yang disuguhkan oleh film ini.
Film ini memiliki banyak momen yang dapat membuat penonton tercengang sembari meringis sedikit, dan momen ter-meringis-nya ada di akhir film, gw ga bakalan bahas disini karena gw ga mau ngerusak ekspektasi kalian semua. Tapi yang pasti, setelah selesai menonton film ini, dan ending creditsnya mulai berjalan, pasti perasaan lo ga enak. Akting Emily Watson amat sangat super duper bagus di film ini, secara magis ia menjelma menjadi gadis polos “agak sinting” yang rajin berdialog dengan tuhan yang kemungkinan besar adalah alter ego nya. Helena Bonham Carter katanya pernah menolak untuk menjadi lakon utama di film ini, pasti menangis di dalam kuburnya kelak setelah melihat penampilan Emily Watson

film seperti breaking the waves hanya muncul sekali dalam puluhan, atau mungkin ratusan tahun, karena populasi pembuat film yang tegas, sinting dan jujur amat sangat tipis, setipis moral gw. Breaking the waves menuntut kita untuk memilih sisi, siapakah yang benar dan siapakah yang salah dan mengapa. Apakah kepercayaan kita terhadap tuhan hanyalah sebuah intermezzo semata karena pada akhirnya kita akan mati sendirian atau justru hal tersebut dapat memberikan kita kekuatan untuk bertahan hidup dari segala kekejaman di muka bumi ini?

5 dari 5 kursi merah