ULASAN,

Istirahatlah Kata – Kata

0
Shares

“Kalau teman-temanmu tanya, kenapa bapakmu dicari-cari polisi, jawab saja : karena bapakku orang berani”. Sepenggal puisi berjudul Wani, Bapakmu Harus Pergi adalah gambaran pembuka saat anak pertama Thukul, Fitri Nganthi Wani diinterogasi oleh seorang intel, menanyakan keberadaan ayahnya, Wani yang didekap ibunya, Dyah Sujirah alias Sipon, tetap bungkam. Dia sudah bisa membedakan mana teman mana lawan.

Dari sekian destinasi pelarian seperti Magelang, Yogyakarta, Salatiga, dan Jakarta, Yosep Anggi Noen, sutradara, memilih Pontianak sebagai latar sembunyi sementara sang aktivis Partai Rakyat Demokratik tersebut. Di Pontianak, Thukul mempunyai identitas baru, namanya Paulus, atau biasa orang memanggil Bang Paul. Berprofesi sebagai tukang bakso yang sedang tertimpa sial, Bang Paul pun dibantu oleh Thomas Daliman, seorang aktivis Lembaga Bela Banua Talino yang juga seorang pegawai negeri dan Martin Siregar yang juga aktivis dan dicari pemerintah.

Setiap tempat atau rumah yang dia singgahi, Thukul selalu waspada dengan menanyakan jalan atau pintu keluar alternatif apabila ada bahaya datang. Film ini sungguh puitis, juga berani. Puitis dan kata demi kata yang menembus tepat sasaran digambarkan saat suara itu membacakan bait demi bait kegundahan serta perlawanan apa yang dirasakan Thukul saat itu sebagai orang yang diburu pemerintahnya sendiri.

Rindu akan istri dan kedua anaknya yang ia terpaksa tinggalkan tentu menambah penderitaannya. Rasa ingin berkumpul bersama seperti layaknya sebuah keluarga normal adalah sebuah keniscayaan. Performa yang ditampilkan oleh Gunawan Maryanto sebagai Thukul dan Marissa Anita sebagai Sipon tidaklah berlebihan, mereka tampil apa adanya, menunjukkan kesedihan, kemarahan, kecemasan dan ketidakpastian atas apa yang mereka alami.

Di sela rasa rindu yang menusuk relung hatinya yang paling dalam itu, terlintas gurauan – gurauan getir namun satir keluar dari mulutnya.Thukul selalu dapat bahan untuk puisinya dimanapun ia berada, bahkan di jamban sekalipun, perumpamaan seperti “Merdeka itu seperti nasi, dimakan jadi tai” adalah curahan hati seseorang yang dibelenggu kebebasan berpendapatnya. Istirahatlah Kata-Kata memang tidak menampilkan sosok Thukul dari awal bagaimana dia memulai perlawanannya, tetapi setidaknya apa yang berusaha ditampilkan adalah sesuatu yang patut disimak.

Biopik Thukul adalah sebuah peringatan sejarah akan sebuah kesewenang-wenangan pemerintahan yang lalim. Mengutuk rezim yang menutup rapat Рrapat mulut rakyatnya bahwa dia adalah penguasa tunggal dan sang messiah bagi negeri yang sedang berkembang, menghilangkan nyawa orang dan pembredelan hak bicara adalah hal biasa. Kata Рkata Thukul lebih berbahaya dibanding moncong senapan yang siap melecutkan timah panasnya, satu Thukul bisa dilenyapkan, tapi idenya tetap bergerilya dan berlipat ganda. Bait baitnya sungguh ikonik dan membuat merah orang yang membaca atau mendengarnya. Memantikkan api semangat dan perlawanan terhadap rezim fasis yang sudah usang dan sedang sakaratul maut.

 5 dari 5 kursi merah