ULASAN,

La La Land: Menelusuri Kenyataan dan Mimpi Melalui Film Musikal

0
Shares

La La Land bukan untuk semua orang, tapi semua orang harus mencoba untuk menontonnya. Mereka yang suka film musikal dan era old Hollywood akan terpana atas glorifikasi dan romantisme mimpi, hasrat, film, musik, dan industri hiburan secara keseluruhan.

Akan tetapi di sisi lain ada juga yang menganggap film ini biasa saja, benci akan nuansa Hollywood lama yang diberikannya, merasa bosan, mungkin tertidur di bioskop, bahkan menolak untuk menontonnya.

Sejujurnya film ini bukan hanya sekadar film musikal, setidaknya itu menurut saya. Sutradara Damien Chazelle yang sebelumnya membuat Whiplash (2014) berhasil memberikan kompromi di tengah idealisme dan realisme atas karisma film Hollywood di masa lampau.

Film ini menceritakan Mia (Emma Stone), seorang wanita yang tergila-gila pada dunia sinema dan bercita-cita untuk menjadi aktris. Ia bekerja di sebuah kedai kopi yang berada di set Hollywood. Semakin terinspirasi dari industri film yang lalu-lalang di depan matanya, mendorong keinginannya untuk terjun di dunia sinema.

Perspektif berganti ke Sebastian (Ryan Gosling), seorang pria yang tergila-gila pada musik jazz dan bercita-cita untuk mempertahankan akar dari musik ini dengan mendirikan sebuah kelab musik. Ia harus menderita dengan bekerja sebagai seorang pianis di sebuah restoran, memainkan musik-musik populer seperti lagu natal yang ia benci.

La La Land akhirnya mempersatukan dua kepribadian ini menjadi sebuah kisah klasik Hollywood tentang cinta yang diselimuti oleh musik, technicolor, dan kebahagiaan. Kemudian perlahan film ini menunjukkan keaslian karakter, mimpi mereka, hubungan, hingga refleksi kehidupan nyata. Jangan baca bagian selanjutnya jika belum menonton film ini!

The all singing all dancing spoiler alert

Pada akhir film keduanya tidak memadu cinta berdua dan drove off into the sunset. Tapi itu bukan berarti mereka tidak bahagia. Mia berhasil menjadi aktris melalui dukungan Sebastian yang mendorongnya untuk membuat sebuah pementasan. Sedangkan Sebastian berhasil mempertahankan musik jazz melalui klab buatannya yang tentunya didukung oleh Mia.

Sebastian adalah wingman dari mimpi Mia dan Mia adalah wingman dari mimpi Sebastian. Apabila kita memberikan perhatian lebih, film ini menunjukkan ego, delusi, hingga mania dari kedua karakter.

Mia dan Sebastian terobsesi kepada apa yang mereka cintai, seakan menolak untuk berkompromi kepada pasangan. Antusias tinggi, euforia, dan delusi adalah karakteristik dari mania, sebuah gangguan jiwa yang sekilas terlihat dari keduanya. Musik, techincolor, dan atmosfir Hollywood lainnya menguatkan poin ini.

Dengan berpakaian rapih seperti tokoh film masa lampau sambil menonton Rebel Without A Cause (1955) mereka seakan terjebak pada nostalgia. Kemudian bioskop tua yang menayangkan film Nicholas Ray ini tutup dan perlahan keduanya berjaya, berpikir ke depan, mengejar mimpi. Rennaisance atau pencerahan  bagi keduanya.

Hubungan Mia dan Sebastian bukan sebuah akhir melainkan proses yang dapat mewujudkan mimpi masing-masing. Bahkan eksplorasi apabila keduanya tetap bersama diberikan melalui sebuah adegan musikal dreamlike yang menunjukkan pengorbanan. Apabila Sebastian mengikuti mimpi Mia maka ia tidak akan membuka kelab jazz yang ia cita-citakan.

Chazelle pun seakan memberikan persembahan kepada old Hollywood tetapi menolak berkompromi pada akhir film dengan akhir bahagia. Memberikan pesan tegas bahwa ini adalah dunia nyata dimana orang yang memilih karir dibandingkan kekasihnya adalah sebuah kemungkinan.

La La Land tetap membahas “love” atau cinta. Tetapi sayangnya ini bukan film Gene Kelly atau Fred Astaire. Film ini memproyeksikan kehidupan nyata yang masih memiliki sihir dicampur dengan realitas. A bit of magic a bit of realism, La La Land sempurna sebagai film musik yang menolak kisah romansa Hollywood dengan indah dan berkelas.

Empat setengah dari lima kursi merah