ULASAN,

Isla Nublar, Bumi Nostalgia

0
Shares

Dua puluh dua tahun setelah seri pertamanya dirilis dan empat belas tahun saat seri ketiga diluncurkan, adalah waktu yg cukup lama dan dinantikan namun terbayarkan oleh para penggemar karya fiksi ilmiah tentang hewan purbakala ini. Sebuah penantian yg tak terbayangkan saat kabar berhembus kalau akan ada lanjutan dari seri ketiga. Dan akhirnya saya bisa menyaksikan kembali salah satu franchise tersukses dalam sejarah sinema. Segala energi masa kecil saya seperti terkumpul kembali. Daya magis film ini terlalu besar untuk dihindari. Seri keempat ini betul-betul momen spesial untuk kembali menyaksikannya dilayar lebar setelah sekian lama.

Jurassic World dibuka dengan adegan dimana Harry Styles kontet dan abangnya diantar oleh kedua orang tuanya menuju Isla Nublar yang merupakan suatu distraksi dari proses perceraian kedua orang tuanya, klise. 10 menit pertama, kita bakalan terperangkap dengan Harry Styles kontet yang super excited untuk pergi ke Jurassic World tanpa bawa ipad / tabletnya (aneh) dan abangnya yang selalu curi curi pandang ke ciwi ciwi di perjalanan menuju taman jurassic (…mmkay). Alis gw masih naik sebelah doang untuk 10 menit pertama. Lalu setelah mereka tiba di Isla Nublar, dan gerbang besar itu terbuka dan taman penuh fantasi akhirnya resmi mempersilahkan pengunjungnya untuk memasuki wahana-wahana seperti Mossasaurus Feeding Show, Gyrosphere yaitu semacam alat transportasi berbentuk bola yg membawa anda menyusuri Gallimimus Valey, menyusuri sungai di Cretaceous Cruise, dan melihat luasnya taman Jurassic dari ketinggian lewat Gondola Lift. .

Gw bener bener dibawa bernostalgia, rasa kegemparan itu benar benar ada. Mengingat ulang nama dinosaurus yang dulu gw hapal mati seperti Pteranodon, Ankylosaurus, Velociraptor, Triceratops, Galimimmus beserta preferensi kudapannya terasa begitu menyenangkan.

Kita berkenalan dengan Indominus Rex di film ini. Indominus Rex yang memiliki arti nama “Untamable King” adalah sebuah dino manufaktur karya Dr.Wu hasil modifikasi genetik dari Gigantosaurus, Rugops, Majungasaurus dan Carnotaurus dengan ukuran lebih besar dari T-Rex dan tingkat intelegensia dan kekuatan berlipat ganda yang kalau disimpulkan secara fisik adalah T-Rex dengan tangan normal dan memiliki ibu jari untuk merenggut apapun itu yang ia mau renggut. Kritetia fisik Indominus Rex sudah cukup mengerikan, ditambah dengan “soft skill” yang dimilikinya, Indominus Rex merupakan perwujudan fisik dari kiamat semi kubra. Selain Indominus Rex, kita juga bisa kembali bercengkrama dengan leluhur ayam jantan yaitu Velociraptor yang digadangkan untuk menjadi senjata biologis masa depan oleh InGen, sesuatu yang sudah di-impikan oleh Saddam Hussein (RIP) belasan tahun lalu.

Selain Indominus Rex, tentunya tokoh-tokoh utamanya adalah para manusia. Chris Pratt cukup baik memerankan Owen dengan keseriusan, hasrat atas dinosaurus, beserta one-liner yang tepat sasaran tanpa menjadi terlalu berlebihan. Kemudian Lowry hadir menjadi jiwa dari para penggemar dinosaurus melalui kaos Jurassic Park, dinosaurus mainannya, dan dedikasi pada hewan-hewan purbakala melalui tugasnya. Claire (Dallas Bryce Howard) adalah salah satu antagonis. Ya, setidaknya itu menurut saya. Kelalaiannya beserta obsesi atas pekerjaan menghasilkan kekacauan di film ini.

Film ini cukup hebat dalam menampilkan pembantaian orang-orang tidak bersalah, dari wanita sibuk hingga pria gendut. Tentunya agar tidak rasis film ini membunuh pria latin, pria asia, kaukasia, hingga india. Sedangkan kehadiran token black guy (Omar Sy) yang sama sekali tidak diperlihatkan fungsi signifikan di film ini berhasil dijauhkan dari kematian. Takut dibilang rasis mungkin, sebuah fakta yang dapat dibuktikan sebaliknya akibat minimnya perannya. Dari semua yang mati, akan lebih sempurna apabila Claire ikut kebagian menjadi prasmanan salah satu karnivora. Wanita hebat tersebut dapat lari lebih cepat dari para dinosaurus menggunakan hak tinggi. Entah dia adalah antagonis kompleks yang terselamatkan kemudian bertransformasi atau seorang protagonis luar biasa yang dapat selamat dari tanggung jawab dan kengerian mahluk di Jurassic World dengan menggunakan sepatu hak tinggi.

Sebelum film ini dimulai, gw sudah menebak bahwa plot dari film ini sudah pasti super cheesy jadi gw menganjurkan kalian yang belum nonton untuk memberikan peduli kalian mengenai plot kepada sang iblis, karena memang benar. berikut adalah sinopsis singkat mengenai plotnya: ada dinosaurus genus baru yang lebih ganas dari t-rex dan dino itu lepas dari kandangnya, 2 anak orang kaya yang merupakan relatif dekat dari karakter utama tersesat di hutan taman jurassic bersama dinosaurus ganas dan ratusan ribu cameo atau pengunjung taman cuman bisa lari larian menunggu ajal ketika all hell breaks loose di pusat taman. Tipikal dinosaster movie, sederhana tanpa harus mengernyitkan dahimu. Cukup nikmati aksi teror Indominus Rex yg memburu apapun yg bergerak. Selama dinosaurus tidak dipaksa untuk masuk kota, segalanya termaafkan.

Oh ya, buat kalian die hard fans yang mengharapkan peran submissive dinosaurus CGI di film ini…yang sabar ya, kalian bukanlah alasan mengapa dunia berputar.

Hal yang menarik adalah, film ini somehow merupakan suatu tribut untuk film jurassic park pertama. Film ini bukan hanya membawa kita bernostalgia dengan dinosaurus dan isla nubar namun juga membawa kita kembali mengingat adegan demi adegan yang ada di film jurassic park pertama, Colin Trevorrow dengan sukses memperlihatkan beberapa “easter eggs” yang merepresentasikan jurassic park 1 di beberapa adegan dengan rapih. Bahkan ada suatu teori dimana karakter Chris Pratt yang amat mencintai raptor itu adalah bocah gendut yang benci raptor di film jurassic park 1. Sang sutradara juga memberikan penghormatan untuk mendiang John Hammond alias Richard Attenborough yg meninggal tahun lalu dengan membuat patung di tengah-tengah Hammond Creation Lab.

Pada akhirnya waralaba Jurassic Park menjadi salah satu film monster terbaik yang pernah diciptakan di layar lebar, mereka memiliki tempat khusus layaknya Jaws dengan keberhasilan yang lebih besar. Kini mereka telah mengembalikan seri film tersebut dalam dunia sinema, apa yang terjadi di film selanjutnya dapat berupa spekulasi yang dapat ditunggu para penontonnya, atau bahkan menjadi artikel lain dari Sinemojo.

4 dari 5 kursi merah