KULTUR DAN FILM,

Sensor: A Cinematic Problem Child

0
Shares

Sensor film datang untuk membatasi beberapa adegan yang dianggap tidak layak oleh sebuah badan yang merepresentasikan negara. Mereka melihat, mengecek, dan memotong. Pembatasan tersebut dapat ditanggapi dengan berbagai pendapat. Mungkin para seniman beserta pendukung setianya akan seringkali berkata bahwa hal tersebut adalah pembatasan kreativitas, akan tetapi badan sensor tetap datang memberikan batas wilayahnya masing-masing seperti Indonesia. Entah pro atau kontra, artikel ini akan membahas sedikit tentang sensor film sebagai penghambat cerita dalam sebuah film.

Cukup disayangkan apabila sebuah keutuhan cerita akan menjadi ambigu apabila terjadi pemotongan adegan yang krusial dalam sebuah film. Sebut saja tiga hari untuk selamanya, apakah anda sadar bahwa seharusnya kedua protagonis yang juga merupakan sepupu pada akhirnya bercinta? Tentu saja tidak. Pemotongan dilakukan dan potensi penuh cerita beserta perkembangannya tidak dapat dicapai dan seakan antiklimaks di adegan terakhir. Ya setidaknya ini adalah pengalaman saya saat menontonnya baru-baru ini, kebingungan atas tingkah laku kedua protagonis di akhir menumbuhkan rasa penasaran sehingga saya mencari jawaban. Entah dipotong sepenuhnya dari hasil akhir atau disensor untuk mencapai standar Indonesia.

 

sensor1

 

Dahulu kala muncul masa emas dalam sinema sedikit softcore Indonesia, tanpa sensor tapi cukup memberikan bumbu dalam film. Kembali ke masa kini kita mendapatkan film-film yang memakaakan diriya menjadi softcore melalui wanita cantik dan baju minimnya, selain itu penempatan adegan seks sendiri dibuat “seaman” mungkin. Saya yakin tidak terbuka layaknya Romeo Juliet atau Tiga Hari Untuk Selamanya dengan adegannya yang belom saya tonton sendiri. Ya, tetapi perlu diingatkan bahwa film diatas kadang kala tidak terlalu rusak apabila diberikan sensor karena tidak krusial pada ceritanya. Akan tetapi kalian dapat tetap berteguh kepada pendapat pembatasan kreativitas sehingga semua film, baik pentig atau tidak dalam penceritaan harus lepas dari segala sensor.

Berbagai stasiun lokal juga hadir memberikan sensor, walaupun berbeda dan tidak memotong cerita, efek meresahkan menuju level menjengkelkan kerap muncul. Sensor tersebut adalah pemberian gambar buram pada hal-hal yang dianggap tidak bisa ditolerir di televisi nasional (we miss you lativi!) seperti cleavage atau belahan dada dan rokok. Sensor tersebut dapat bersifat duri kecil yang tidak sengaja terinjak, sakit tapi tidak signifikan. Ya, kecuali dilumuri tetanus.

Apabila visual menjadi salah satu sorotan sensor, bagaimana dengan pemotongan adegan atau dialog kasar yang muncul dalam film? Tentu saja penyensoran tersebut dapat merusak cerita, memberikan distorsi. Sebut saja pengalaman yang saya alami saat menonton Inside Llewyn Davis di Indovision. Sebuah adegan sebab-akibat yang melibatkan protagonis utama telah dipotong saat seorang pemilik bar mengaku meniduri wanita yang ia sukai. “I fucked her” adalah kata tepatnya dan setelah itu Llewyn sebagai tokoh utama mengamuk di bar hingga menghina seorang wanita tua. Dalam film yang saya tonton kata-kata tersebut dipotong menyebabkan ambiguitas atas alesan mengapa Llewyn mengeluarkan amarahnya. Sayang sekali karena itu adalah salah satu langkah signifikan dalam film ini.

Sensor merupakan pembatas, tertuju pada moral atau kreativitas tetap saja sebuah pembatas. Dalam permasalahan yang muncul dari contoh diatas kita dapat menemukan pengubah cerita melalui sensor. Bioskop Malaysia pernah mengalami permasalahan seperti ini, seperti penggantian judul dari Hellboy menjadi Super Sapiens, menghilangkan brand dari komik tersebut sekaligus menurunkan tingkat badass dari judul film asli. Kemudian Indonesia sendiri gagal menampilkan keseluruhan sebuah film yang tidak lulus sensor secara keseluruhan. Sebut saja Gone Girl yang dapat lolos sensor akan tetapi terjadi penolakan pemutaran oleh Afleck, Fincher, dan rekan pembuat lainnya karena ia pikir bahwa pemotongan sebuah adegan akan merusak keutuhan dari cerita film tersebut.

sensor2

Pada akhirnya pro kontra-sensor secara keseluruhan muncul, ada yang menolak secara keras dan ada yang mendukung dalam penyensoran tersebut. Akan tetapi hal yang pasti adalah beberapa sensor muncul bukan hanya membatasi akan tetapi memotong hingga merusak keutuhan cerita. Apakah hal tersebut bisa ditolerir? Sedikit jiwa saya hilang saat sensor telah menodai sebuah cerita. Untuk masa depan yang berwarna, semoga sensor dilakukan dengan bijak di Indonesia.